Berani Otentik, Strategi Branding Epik Tak Lekang Masa

Di tengah tren yang datang silih berganti, satu pertanyaan penting muncul: masih pentingkah jadi otentik? Perlukah menjadi apa adanya? Apakah dengan apa adanya bisa menarik perhatian?

Saat semua berlomba mengikuti tren demi tampil relevan, banyak brand yang kehilangan arah dan jati dirinya. Padahal, justru di saat brand tetap setia dengan nilai-nilainya sendiri, kepercayaan konsumen bisa tumbuh makin kuat.

Brand otentik bukan berarti anti-tren, tapi tahu kapan dan bagaimana merespons tren tanpa kehilangan suara aslinya. Saat brand bisa menyuarakan nilai, visi, dan karakternya dengan konsisten, itulah saat brand benar-benar hidup dan berbeda. Inilah saatnya kembali ke core identity bukan sekadar ikut arus, tapi menciptakan gelombang sendiri.

Philip Kotler dan Kartajaya & Setiawan dalam buku “Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit” menekankan pentingnya pemasaran berbasis nilai dan keaslian di era modern. Mereka berargumen bahwa di era digital dan media sosial, merek yang hanya ikut tren tanpa keaslian tidak akan bertahan lama.

Kotler menyatakan bahwa “tidak ada peluang bagi merek yang tidak otentik untuk bertahan” ketika konsumen saling terhubung dan berbagi informasi; kepalsuan akan cepat terungkap oleh komunitas. Sebaliknya, “hanya kejujuran, orisinalitas, dan otentisitas-lah yang akan berhasil” dalam menjalin kepercayaan konsumen.

Pandangan ini menegaskan bahwa mengikuti tren semata tanpa keselarasan dengan DNA merek dan nilai-nilai yang tulus justru berisiko merusak reputasi jangka panjang. Merek harus “be true to your brand DNA”. Tetap setia pada jati dirinya. Sembari memenuhi kebutuhan modern, daripada sekadar mengejar setiap tren baru.

UNKL347 (Bandung) jadi contoh nyata brand yang konsisten mengusung identitas yng otentik. Brand distro lokal sejak 1996 yang mengeksplorasi budaya kreatif Bandung dan menegaskan produk lokal dengan stempel “This is not made in China.” Konsistensi kampanye ini mencerminkan nilai lokal otentik dan membangun komunitas kuat, tanpa terjebak fast-fashion atau gaya asing yang sedang tren.

Jargon ini konsisten disematkan selama 25 tahun mengiringi perjalanan UNKL347. Kalimat provokatif ini dibuat sebagai kebanggaan atas pengrajin-pengrajin produk lokal, dan tempat terciptanya UNKL347, di Indonesia.

Di FMCG ada Teh Botol Sosro yang tentu sudah menjadi top of mind bagi penikmat kuliner dan masyarakat umum dengan tagline “apapun makannya, minumny Teh Botol Sosro”.

Sejak 1970, kemasan botol klasik dan rasa jasmine tea khas tetap dipertahankan. Keaslian ini membuat Teh Botol konsisten di benak konsumen meski banyak tren minuman kemasan baru muncul

Brand seperti ini mengajarkan satu hal: otentik itu strategi marketing paling jitu, dan percaya pada identitas brand. Ketika brand tetap jujur terhadap karakternya, loyalitas dan koneksi emosional dengan audiens jadi lebih dalam dan tahan lama.

Tentu, mengikuti tren bisa jadi pilihan. Tapi, menyeimbangkan antara tren dan nilai inti jauh lebih strategis. Dengan pendekatan kreatif dan data yang tepat, brand tetap bisa relevan tanpa kehilangan jati diri. Dan untuk merancang strategi branding yang tetap otentik namun adaptif di tengah derasnya arus pasar, saatnya berkolaborasi dengan Sagha Creative.

Sagha Creative membantu brand menemukan dan menghidupkan identitas aslinya, dengan sentuhan kreatif, riset berbasis data, dan pendekatan yang humanis. Bukan sekadar bikin brand ramai, tapi bikin brand benar-benar bermakna.